Oleh Buhairi Aidi
Tokoh Pers
Di tulis ulang oleh Iko Erza H.
Tulangbawang Barat – Tradisi menyampaikan pesan atau warta bukanlah hal baru bagi masyarakat adat Lampung. Sejak lama, jauh sebelum hadirnya media massa modern, masyarakat telah memiliki mekanisme komunikasi publik yang berakar kuat pada budaya kolektif.
Di Desa Karta, Kabupaten Tulangbawang Barat, misalnya, masih hidup jejak tradisi penyampaian warta dengan pola khas: sebuah bunyi gong atau tabuhan canang sebagai tanda awal, lalu pesan penting disampaikan oleh seorang juru pesan—figur yang dalam istilah modern bisa kita sebut sebagai “wartawan adat”.
Gong sebagai Isyarat Kolektif
Bagi masyarakat adat, bunyi gong atau canang bukan sekadar alat musik. Fungsinya adalah tanda kolektif, semacam “alarm sosial” yang mengundang warga berhenti dari aktivitas sehari-hari dan bersiap mendengar pesan. Tradisi ini menjadi cara efektif mengumpulkan perhatian masyarakat di kampung, terutama pada masa ketika media cetak dan elektronik belum dikenal.
Setelah gong ditabuh, seorang lelaki yang dipercaya adat akan menyampaikan pesan. Pesan itu selalu berkaitan dengan kepentingan umum, bukan hal-hal privat. Misalnya: ajakan gotong royong memperbaiki jalan, peringatan tentang wabah penyakit, atau pengumuman aturan adat baru yang perlu ditaati bersama.
Analisa Empiris
Berdasarkan pengamatan di Desa Karta, pola komunikasi ini memenuhi syarat sebagai bentuk awal dari “jurnalisme komunitas”. Ada tiga indikator yang bisa dicatat:
1. Adanya sistem tanda: gong/tabuhan sebagai pembuka pesan.
2. Adanya juru pesan: orang yang dipercaya untuk menyampaikan warta.
3. Adanya isi kolektif: pesan menyangkut kepentingan bersama, bukan urusan pribadi Barges88.
Ketiga indikator ini menunjukkan bahwa masyarakat adat Lampung, khususnya di Tulangbawang Barat, telah mengenal struktur penyampaian informasi publik yang terorganisasi sejak era nenek moyang.
Perlu Riset Lanjutan
Meski bukti tertulis masih terbatas, analisa empiris dari praktik di Desa Karta memberi gambaran bahwa tradisi warta sudah berakar kuat dalam kehidupan masyarakat Lampung. Bahkan, bisa jadi tradisi ini memiliki kronologi yang lebih tua dibanding praktik komunikasi publik di Eropa pada masa awal filsafat klasik—meski klaim semacam itu tentu memerlukan riset akademik lebih mendalam.
Menjaga Tradisi di Era Modern
Hari ini, ketika informasi menyebar lewat gawai dan media sosial, tradisi warta dengan gong dan juru pesan mungkin terlihat sederhana. Namun, justru di situlah nilai pentingnya: tradisi ini mengajarkan bahwa komunikasi publik mesti jelas, terbuka, dan ditujukan untuk kepentingan bersama.
Dengan mendokumentasikan tradisi ini, Desa Karta dan masyarakat Tulangbawang Barat sesungguhnya sedang menjaga warisan budaya komunikasi yang menjadi identitas Lampung: bahwa warta, pada dasarnya, adalah suara masyarakat untuk masyarakat.
#WartaAdat #BudayaLampung #TulangBawangBarat #TradisiNusantara #GongCanang #JurnalismeAdat #BeritaIndonesia #WarisanBudaya #KearifanLokal #ViralBudaya


















