JAKARTA – Indonesia berduka. Meriyati Roeslani Hoegeng, yang akrab disapa Eyang Meri, istri dari mantan Kapolri Jenderal (Purn) Hoegeng Iman Santoso, wafat pada usia 100 tahun. Eyang Meri menghembuskan napas terakhirnya setelah menjalani perawatan medis, meninggalkan jejak keteladanan yang mendalam bagi keluarga, institusi Polri, dan bangsa Indonesia.
Lahir di Yogyakarta pada 23 Juni 1925, Eyang Meri menjalani hidup dengan kesederhanaan yang konsisten, bahkan ketika mendampingi suaminya di puncak jabatan negara. Ia dikenal luas sebagai sosok istri pejabat yang teguh memegang nilai kejujuran, hidup bersahaja, serta berani berkata tidak terhadap segala bentuk penyimpangan.
Dalam perjalanan hidupnya bersama Jenderal Hoegeng, Eyang Meri bukan sekadar pendamping, melainkan penjaga nilai moral dan nurani keluarga. Prinsip hidupnya yang lurus dan tegas menjadi bagian tak terpisahkan dari reputasi Jenderal Hoegeng sebagai simbol polisi jujur dan berintegritas di Indonesia.
Di masa tua, Eyang Meri tetap aktif, hangat, dan bersahaja. Ia menjadi sumber inspirasi lintas generasi, membuktikan bahwa keteguhan karakter dan kesetiaan pada nilai dapat dijaga hingga akhir hayat. Pada usia 100 tahun, kisah hidupnya bahkan diabadikan dalam sebuah buku biografi sebagai bentuk penghormatan atas perjalanan panjang pengabdian dan keteladanannya.
Kepergian Eyang Meri bukan hanya kehilangan bagi keluarga besar Hoegeng, tetapi juga bagi bangsa yang merindukan figur-figur teladan di tengah kehidupan publik. Nilai kejujuran, kesederhanaan, dan keberanian moral yang ia wariskan akan tetap hidup dalam ingatan kolektif bangsa.
Selamat jalan, Eyang Meri. Terima kasih atas keteladanan yang telah engkau tanamkan sepanjang satu abad kehidupan.
#Obituary, #EyangMeri, #MeriyatiHoegeng, #JenderalHoegeng, #TeladanBangsa, #Kejujuran, #Kesederhanaan, #DukaNasional

















