Medan – Kinerja ekspor karet asal Sumatera Utara tercatat melemah dalam beberapa bulan terakhir. Penurunan ini disebabkan oleh turunnya harga karet dunia serta melemahnya permintaan dari negara tujuan utama ekspor seperti Jepang, Amerika Serikat, dan Tiongkok.
Data dari Dinas Perindustrian dan Perdagangan Sumatera Utara menunjukkan bahwa volume ekspor karet pada triwulan ketiga tahun 2025 mengalami penurunan signifikan dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Kondisi tersebut turut berdampak pada pendapatan petani dan pelaku usaha karet di berbagai daerah sentra produksi seperti Langkat, Asahan, dan Labuhan Batu.
Menurut salah satu eksportir, lemahnya permintaan pasar global membuat harga jual karet di tingkat petani turun hingga di bawah Rp13.000 per kilogram. “Kami berharap ada langkah konkret dari pemerintah untuk membantu stabilisasi harga dan memperluas pasar ekspor,” ujarnya.
Sementara itu, pengamat ekonomi dari Universitas Sumatera Utara menilai pemerintah perlu memperkuat hilirisasi produk karet agar tidak hanya bergantung pada bahan mentah. “Industri olahan karet seperti ban, sarung tangan, dan komponen otomotif bisa menjadi solusi jangka panjang,” jelasnya.
Dengan kontribusi besar terhadap ekspor nonmigas daerah, penguatan sektor karet dinilai penting untuk menjaga keseimbangan ekonomi Sumatera Utara di tengah ketidakpastian global.
—
#EksporKaret, #SumateraUtara, #HargaKaret, #EkonomiDaerah, #BeritaIndonesia, #PerdaganganEkspor, #PetaniKaret,

















