Di bawah langit Alengka yang muram, Rahwana berdiri di serambi istananya. Angin membawa harum bunga malam, namun tak satu pun mampu mengusir sunyi di dadanya. Waktu berjalan, musim berganti, tetapi satu nama tetap tinggal di hatinya: Sinta.
Sinta duduk di taman istana, di bawah pohon asoka yang sama setiap hari. Tatapannya lurus ke kejauhan, menjaga kesetiaan pada Rama, lelaki yang telah mengikat hatinya dengan sumpah. Rahwana mengetahuinya. Ia adalah raja, namun di hadapan cinta, ia memilih menjadi penunggu.
“Mengapa engkau tetap di sini, wahai Raja Alengka?” tanya Sinta suatu senja.
“Karena cintaku tak menuntut apa pun, Sinta,” jawab Rahwana tenang. “Aku hanya ingin memastikan engkau aman, meski hatimu bukan milikku.”
Sinta menunduk. “Kesetiaanku tak bisa berpaling. Aku milik Rama, bukan karena paksaan, tetapi karena janji.”
Rahwana tersenyum pahit. “Dan aku setia pada perasaanku sendiri. Aku mencintaimu tanpa harus memilikimu.”
Malam turun perlahan. Lentera menyala satu per satu. Rahwana tetap menjaga jarak—jarak yang ia sebut kehormatan.
“Jika cintamu tak pernah berbalas, mengapa engkau bertahan?”
“Karena menunggu adalah bentuk cintaku yang paling jujur.”
Di sanalah Rahwana hancur sebagai lelaki, namun agung sebagai raja. Ia runtuh bukan oleh perang, melainkan oleh cinta yang ia jaga dengan kesetiaan. Dan Sinta memahami satu hal yang tak tertulis dalam kitab mana pun:
tak ada raja setulus Rahwana, yang menunggu cinta tanpa kenal waktu, dan setia meski tak pernah dimenangkan.
#Rahwana, #Sinta, #KisahCinta, #Kesetiaan, #Sastra, #LegendaRamayana

















